Cari Artikel Tekstil

Popular Post

  • Recent Developments in Smart and Intelligent Textiles.
  • Deciding the Fabric Features with Weaving Patterns.
  • AMedical Textiles: Nanofiber-based Smart Dressings for Burn Wounds.
  • Penjelasan mengenai pertenunan handuk.
  • Plasma Treatment Technology for Textile Industry Plasma Treatment Technology for Textile Industry.

Wednesday, December 26, 2018

Kain Tenun Anyaman Handuk


Pernahkan kalian pake handuk? tahukah kalian bagaimana handuk tersebut dapat dibuat sedemikian rupa? Ternyata itu juga ada ilmunya lho! Kain handuk (Turkish Towelling Fabrics) adalah struktur kain yang bisa dimasukan dalam kelas kain bulu lusi yang disebut dengan istilah “terry” pile.

Download artikel Anyaman Handuk Pada link berikut:

Anyaman Handuk - Academia - Andrian Wijayono (Download)

Berikut ini merupakan salah satu video cara pembuatan anyaman Handuk:


Pada kain ini sebagian benang-benang lusi tertentu membentuk jeratan (loop) atau lengkungan yang menonjol pada permukaan kain. Struktur kain ini tersusun oleh satu macam pakan dan dua macam benang lusi yang lalatan tenunnya terpisah. Satu macam lusi bersama pakan membentuk kain dasar, sedang satu macam lusi lainnya membentuk bulu-bulu loop tersebut.

Perbedaan jenis kain ini dibandingkan dengan kain berbulu lusi yang biasa adalah bahwa pembentukan bulu disisni tidak menggunakan bantuan kawat melainkan menggunakan gerakan sisir tenun dan alat pengulur lusi yang memungkinkan jeratan-jeratan benang (loop) terbentuk. Jeratan-jeratan bisa terbentuk pada sebelah muka kain maupun pada kedua muka kain.


Kain ini biasa dibuat dari benang-benang linen atau kapas dipakai untuk keperluan lap mandi, lap tangan, pakaian olah raga, dan sebagainya, tetapi masih mungkin dibuat dari benang-benang lainnya.

Tidak seperti menenun kain yang tiap kali peluncuran teropong disusul dengan pengetekan pakan pada ujung kain. Pada pembuatan kain ini pengetekan untuk merapatkan benang pakan pada kain dilakukan setelah beberapa kali peluncuran benang pakan terjadi. Untuk lebih jelasnya perhatikan penampang kain handuk pada gambar 339 yang bulunya terbentuk pada kedua permukaan kain.

Pembentukan Bulu Pada Permukaan Kain Handuk

Garis tegak putus-putus RR, SS dan TT membagi pakan 1 , 2 dan 3 kedalam grup yang terdiri dari 3 pakan, garis TT adalah posisi tepi kain. Sebelah kanannya adalah gambar anyaman atau grup yang terdiri 3 pakan, yang merupakan satu ulangan dari setiap pengetekan merapat pada kain.

G dan G’adalah lusi – lusi dasar, F dan B masing – masing bulu lusi bawah dan atas yang masing – masing tergambar pada desain anyaman P. Dalam pertenunan lalatan lusi dasar untuk G dan G’ dengan tegangan yang besar sedang lalatan untuk lusi bulu F dan B yang memiliki tegangan kendor.

Mula – mula pakan 1 dan 2 ditenun, tetapi tidak diketek merapat pada kain, tetapi begitu pakan 3 dimasukan, pengetekan dilakukan sehingga 3 pakan bergeser bersama-sama pada ujung kain. Dengan grup tiga pakan ini menjepit benang – benang lusi bulu sehingga dengan bergesernya grup pakan ini benang lusi F dan B lebih cepat tertarik dan terbentuk kain.

Struktur terry dengan grup 3 pakan banyak dipakai, tetapi bisa juga 4, 5 dan 6 pakan untuk membuat garis baris bulu arah melintang kain.


Gambar - 1 Anyaman Kain Handuk

Berikut ini merupakan model struktur dari anyaman handuk :



Tenunan Handuk

Sejumlah desain standar untuk kain handuk terlihat pada gambar 340. Desain – desain tersebut dikelompokan sehingga mudah untuk membandingannya satu dengan yang lain.

Tanda titik menujukan efek lusi dasar, tanda kotak penuh menunjukan efek benang-benang bulu atas, sedang tanda silang menunjukan efek benang – benang bulu bawah.

Desain A, B, C, D dan E susunan benang lusi adalah satu lusi dasar, satu lusi bulu. Pada desain F,G,H,I,J dan K susunan benang lusi adalah 1 dasar, 1 bulu atas, 1 dasar, 1 bulu bawah.

Desain L,M,O,P da Q menghasilkan efek yang masin-masing sama dengan desaing F – K, tetapi desain-desain terdahulu tersusun 1 dasar, 1 bulu atas, 1 bulu bawah dan 1 dasar.

Pada tiap desain A sampai desain E ada satu lusi bulu atas setiap lusi dasar, sedangkan mulai desain F sampai Q,susunannya adalah 1 lusi bulu setiap 2 lusi dasar.

A,F dan L adalah rencana untuk menghasilkan efek bulu pada 3 pakan, B,G dan M pada 4 pakan, C,H,N,D,I,O,J dan P pada 5 pakan dan E,K,Q pada 6 pakan.

Efek 5 pakan (C,H dan N) masing-masing sama dengan D,I dan O kecuali bahwa benang-benang bulu lebih banyak silangannya sedang J dan P menunjukan modifikasi lebih lanjut dimana lusi bulu atas lebih banyak menyilang lagi dari pada lusi bulu bawah. Meskipun jumlah benang pakan kurang tetapi desain ini mesin menghasilkan anyaman yang kokoh dan kadang – kadang menghasilkan struktur yang kuat dan awet.

Pada efek 6 pakan E,K dan Q lusi-lusi menyilang dengan pakan sama betul dengan A,F dan L mesing-masing, tetapi bulu dihasilkan pada tiap 6 pakan.

Struktur ini masih jauh lebih kokoh dari pada efek 4 pakan, dengan alasan makin besar silangan yang berada pada tiap baris bulu yang melintang, dan dengan makin halus benangnya dan makin besar tetal per inch, maka kain akan sangat kuat dan awet.


Gambar - 2 Jenis - Jenis Anyaman Handuk

Cara Pencucukan Pada Pertenunan Handuk

Dalam pencucukan benang lusi, lusi bulu dicucuk pada dua gun muka sedang lusi dasar (apabila sepanjang kain membentuk bulu terus) pada dua gun belakang seperti terlihat pada gambar R 340, untuk susunan 1 dasar, 1 bulu dan pada S untuk susunan 2 dasar, 2 bulu.

Biasanya dua benang terpisah tiap lubang sisir dan untuk susunan 1 dasar, 1 bulu, maka satu dari tiap macam dimasukan dalam lubang yang sama seperti terlihat pada gambar yang terletak diatas R gambar 340.

Tetapi pada susunan 2 dasar, 2 bulu, maka dua benang dari seri yang sama dimasukan dalam satu lubang seperti pada gambar diatas S. Kedua susunan tersebut praktis menghasilkan kain yang sama, tetapi susunan 2 a 2 ada keuntungannya dengan pencucukan tersebut diatas, naik turunnya benang tiap lubang berlawanan satu sama lain dan pada waktu yang sama benang lusi bulu dan benang lusi dasar berada pada pakan yang sama dipisahkan oleh kawat sisir, sehingga mulut lusi akan lebih bersih.

Contoh konstruksi handuk kapas yang bermutu baik sebagai berikut:

Lusi – lusi bulu       : 20/S’ rangkap dua
Lusi dasar              : 18/2’S
Pakan                    : 16/2’S
Tetal lusi                : 50 helai per inch
Tetal pakan           : 58 helai per inch


Untuk memproduksi kain 100 yard kain diperlukan 500 yard benang lusi bulu dan 102 yard benang lusi dasar.

Mengkeret kain sekitar 12%. Untuk kain yang lebih murah pakan bisa 20’S, tetapi tetal 36 per inch atau lebih, lusi bulu 16’S dan lusi dasar 14’S

Tiap 100 yard kain dibutuhkan 300 yard untuk lusi bulu. Untuk kain yang lembut (soft) benang bulu harus dipintal dengan twist yang rendah. Rasa pegangan yang juga bergantung dari pada panjang pendeknya bulu, makin panjang pegangan makin lembut. Panjang bulu-bulu tersebut ditentukan oleh jarak antara tepi kain (TT) gambar 339 dengan dua  pakan yang kemudian (sebelah kanan, pakan 1 , 2) yang besarnya sekitar ½ inch.

    Gerakan – gerakan dalam pembentukan bulu

Macam – macam sistem telah dibuat orang untuk memungkinkan dua pakan berturut-turut tidak diketekan terlebih dahulu pada kain. Salah satu sistem yang dapat diikuti penjelasan gambar 341 (seperti dibuat oleh Messr, Butterworth & Dickinson, Ltd) dimana mekanisnya dikendalikan oleh alat dobby atau jacquard.

Kedudukan sisir S selama waktu penyetelan dikendalikan oleh mekanis pembukaan mulut lusi melalui tali A yang diikatkan pada tangan B dengan titik tumpu C.


·    Pada waktu diperlukan penyetelan untuk merapatkan benang pada kain, maka sisir S harus dipegang kokoh oleh M. Dalam keadaan demikian tali A tidak naik, ujung sebelah kiri B naik, tali E menarik ujung G, sedang ujung F yang lain akan naik.

Gerakan penyetelan lade U kekiri dimana anti friksi bowl H berada, tidak akan mengenai cam G yang sudah naik diluar daerah kerja H. Dengan demikian juga pal H tetap berkedudukan dibawah, sehingga waktu bergerak kekiri berada dibawah dan tidak mengenai pal O.

Karena itu lever M menekan ujung bawah sisir, dan akibatnya waktu penyetelan terjadi, sisir mampu menggeser pakan merapat pada kain seperti biasa.


·         Pada waktu sisir harus tinggal dibelakang pada waktu pemasukan dua benang pakan 1 dan 2, tali A dinaikan (oleh gerakan mekanisme pembukaan mulut, tepat pakan 1 dan 2 dimasukan), maka ujung kiri lever B turun dan tali E mengendor melepas ujung G untuk naik sedang ujung kanan G turun.

Pada saat U bergerak kekiri bowl H mengenai ujung G, sehingga G bergerak keatas mendorong pal N naik melalui batang J. Pada waktu lade U bergerak kekiri pal N akan naik keatas O dan lever M jatuh kebelakang pakan tidak terketek atau tetap tinggal dengan jarak tertentu dari kain.

Gerakan pada 1 dan 2 bergantian selama proses pertenunan berlangsung. Hanya pada waktu membuat tepi handuk dimana bulu tidak terbentuk, maka tali A harus diturunkan sehingga pengetekan bisa berjalan biasa.

Jauh dekatnya gerakan sisir dapat diatur dengan menyetel ujung batang J pada celah – celah I dan K.

Pal P dan Q untuk membatasi gerakan cam G. Per R diperlukan untuk mengabsorpsi setiap akses gerakan dari mekanisme pembukaan mulut lusi.

Karena benang lusi bulu relatif cepat habis biasanya gulungan lusi bulu dilalatkan pada lalatan yang lebih besar.

Lalatan ditunjang dengan oleh penyangga yang agak lebih tinggi dari pada mulut. Pada waktu berjalan, ketegangan lusi sedikit diperlukan dengan beban pengantar 1, dan tengangan bisa ditambah pada saat pembentukan bulu dihentikan.

Pada waktu tali-tali naik oleh gerakan mekanisme pembukaan mulut, ujung lever 3 turun, dan batang 5 juga turun dan beban bertambah pada lalatan.

Sebaliknya kalau tali-tali turun, oleh tarikan per 6 ujung lever 3naik, dan lever 5 naik pula maka beban berkurang.

Pada waktu menenun tepi handuk dimana bulu tidak terbentuk maka tali 2 dinaikan dan lever 5 turun sehingga selama itu menghasilkan tegangan lusi yang lebih besar.

Tenunan Handuk Hias

Pernah ga kalian lihat handuk merek Gucci? atau handuk handuk lainnya yang memiliki corak pada kainnya? salah satu cara pembuatannya yaitu dengan menggunakan teknik tenunan handuk Hias.

Kemungkinan yang bisa dibuat dari desain pada gambar 340 hanyalah hiasan dengan benang bulu berwarna untuk menghasilkan hiasan bentuk strip.

Untuk membuat motif-motif dapat dilakukan dengan pertukaran benang – benang bulu, yang pada daerah tertentu benang-benang lusi bulu merupakan bulu atas dapat diubah menjadi bulu bawah pada tempat-tampat yanglain dan sebaliknya seperti jelas terlihat pada gambar 342.


Kalau diperhatikan pada gambar 342 itu dalam tiap grup tiga pakan, bulu-bulu atas selalu berada diatas pakan pertama dan pakan terakhir, dan sebaliknya bulu-bulu bawah berada dibawah pakan pertama dan pakan terakhir.

Dengan berpedoman pada ketentuan tersebut, dapat dengan mudah mendesain perubahan-perubahan dari bulu atas menjadi bulu bawah dan sebaliknya.

Sebagai contoh diperlihatkan pada gambar 344.Susunan benang lusi 2 lusi dasan dan 2 lusi bulu. Anyaman dasar rib 2/1, lusi bulu terbentuk hanya pada sebelah muka anyaman dibagi dalam 4 bagian.

Bagian G membentuk bulu atas. Bagian H membentuk bulu bawah, yang gambar penampangnya terlihat pada gambar 342 A.

Cucukan dalam gun terlihat pada gambar I. Lusi – lusi bulu dicucuk pada gun-dun muka sedang lusi – lusi dasar dicucuk pada gun-gun belakang, I adalah gambar rencana kartu dobby yang dipakai.

Desain anyaman tersebut akan membentuk kain bermotif kotak-kotak yang terlihat pada gambar 343.


Gambar 345 menunjukan contoh desain anyaman yang susunan benang 1 dasar 1 bulu atas 1 dasar dan 1 bulu bawah, anyaman dsaar rib 2/1. Desain tersebut juga dibagi dalam beberapa bagian seperti gambar 346. Pada L lusi bulu atas bertanda kotak penuh, pada M lusi bulu atas ini dirubah menjadi bulu bawah dan luci bulu bawah yang bertanda silang, pada M dirubah menjadi lusi bulu atas.





Demikian pula pada N bulu atas dan bulu bawah masing – masing dirubah pada O menjadi bulu bawah dan bulu atas.

Agar lebih jelas dapat dilihat prinsipnya sesuai dengan gambar 342 D. Bagian K gambar desain tersebut membentuk strip yang kontinu. Untuk jelasnya lihat gamber 345.

Bagian bawah dari gambar 345 tersebut menunjukan bagian yang tidak terbentuk bulu yang diberi pula garis dengan pakan tebal yang berefek agak panjang.

Desain tenunnya tampak pada gambar 346 R. Cucukan dalam gun terlihat pada gambar P, sedang waktu dobby terlihat pada gambar S.


Kain Handuk Bergambar Atau Bermotif

Pada prinsipnya kain handuk ini juga sama prinsipnya dengan handuk yang lainnya, namun terdapat gambar atau motif yang dibuat dengan bantuan jacquard.

Pada gambar 347 dilakukan pergantian antara lusi berwarna putih dan berwarna biru. Dimana ketika tampak daerah berwarna putih yang artinya lusi putih sedang membentuk loop pada permukaan kain, sedangkan benang biru membentuk loop dibaliknya.

Apabila diingat kembali, maka prinsip pembuatannya sama saja dengan kain dua muka yang telah dipelajari sebelumnya, hanya kain ini memiliki bulu-bulu dipermukaanya yang disebabkan oleh gerakan sisir tenun.

Untuk memperjelas penjelasan ini, perhatikan gambar 347  yaitu gambar dari contoh kain handuk bergambar dibawah ini:



Seperti yang dapat dilihat, kain diatas adalah salah satu kain handuk yang memilii corak gambar, namun bukan dengan cara di sablon atau diprint, namun dengan cara teknik anyamannya.

Kain handuk diatas memiliki susunan lusi yaitu satu benang dasar, satu benang bulu berwarna putih, 1 buah benang ground dan 1 buah benang bulu berwarna biru dan terbentuknya bulu untuk setiap tiga peluncuran pakan.

Tags:

Anyaman ; Polos ; Keper ; Satin ; Turunan ; Desain Tekstil ; Tekstil ; Kuliah Tekstil ; Anyaman Tekstil ; Kertas Desain Tekstil ; Struktur ; Struktur Anyaman ; Benang Lusi ; Benang Pakan ; Warp ; Weft ; Picks ; Fabric ; Plain ; Twill ; Sateen ; Textile Design ; Ahli Desain ; Politeknik STTT Bandung ; Analisis Anyaman ; Penggolongan Anyaman ; Penggolongan Struktur Anyaman ; Jenis Anyaman ; Anyaman - Anyaman ; Anyaman-Anyaman ; Tekstil Sandang ; Gambar Anyaman ; Belajar Tekstil ; Tekstil Indonesia ; Benang Anyaman ; Anyaman Benang ; Struktur Benang Anyaman ; Berbagai Jenis Anyaman ; Kain Pakaian ; Pakaian Manusia ; Sejarah Pakaian ; Tenunan ; Struktur Tenunan ; 

Lihat Juga

loading...

See Also

loading...

Ahli Desain Tekstil . 2018 Copyright. All rights reserved. Designed by Andrian Wijayono